Ketika Suharto Dipecat Secara Tidak Hormat Oleh Jenderal Nasution
Pada artikel kali ini, kami akan mencoba
menguak sedikit dari banyaknya tandatanya-tandatanya besar yang masih
tersimpan di saku tiap rakyat Indonesia yang tercinta ini dan belum
terjawab, bahkan tak akan pernah terjawab. TAPI janganlah menjadikan artikel ini sebagai acuan dari fakta sejarah. artikel ini mungkin bisa kamu jadikan sebagai bandingan terhadap sumber sejarah laiinya :)
Hal itu dilakukan karena pada masa rezim New Order
atau Orde Baru itu, banyak sekali sejarah-sejarah yang tak boleh
dipublikasikan, ditulis ulang, dibengkokkan, lalu di propagandakan
melalui media-media zombie yang pada masa lalu, bagai ‘media
peliharaan’.
![]() |
| Suharto, sebagai komandan Abri saat memimpin pasukan untuk memerangi G-30/S-PKI |
Suharto, presiden diktator era ‘Orde Baru’ (New Order) yang berkuasa selama 32 tahun, yang selalu menang dalam pemilu sebanyak 6 kali berturut-turut alias hat trick
dua kali oleh pemilihan presiden secara tak langsung (dipilih oleh
DPR/MPR), lahir di Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, 8 Juni 1921.
Ia lahir dari keluarga petani yang menganut Kejawen.
Keyakinan keluarganya ini kelak terus dipeliharanya hingga hari tua.
Karir Suharto diawali sebagai karyawan di sebuah bank pedesaan, walau
tidak lama.
Dia sempat juga menjadi buruh dan kemudian menempuh karir militer pertama kali sebagai prajurit KNIL yang berada di bawah kesatuan tentara penjajah Belanda. KNIL adalah singkatan dari bahasa Belanda; het Koninklijke Nederlands(ch)- Indische Leger, atau secara harafiah: Tentara Kerajaan Hindia Belanda.
Saat Jepang masuk di tahun 1942, Suharto bergabung dengan PETA, yaitu singakatan dari tentara sukarela Pembela Tanah Air (kyōdo bōei giyūgun) adalah kesatuan militer yang dibentuk Jepang di Indonesia dalam masa pendudukan Jepang.
Ketika Soekarno memproklamirkan kemerdekaan, Soeharto bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat atau biasa disingkat dengan TKR, adalah sebuah nama angkatan perang pertama yang dibentuk oleh Pemerintah Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
TKR dibentuk pada tanggal 5 Oktober 1945
berdasarkan maklumat yang dikeluarkan oleh Pemerintah Republik
Indonesia. TKR dibentuk dari hasil peningkatan fungsi Badan Keamanan Rakyat (BKR) yang sudah ada sebelumnya dan tentara intinya diambil dari bekas PETA.
Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949
Salah satu ‘prestasi’ kemiliteran Suharto
yang sering digembar-gemborkannya semasa dia berkuasa adalah Serangan
Umum 1 Maret 1949 atas kota Yogyakarta.
Bahkan ‘prestasi’ ini sengaja difilmkan dengan judul ‘Janur Kuning’ pada tahun 1979, yang memperlihatkan jika serangan umum itu diprakarsai dan dipimpin langsung oleh Letkol Suharto.
Padahal, sesungguhnya serangan umum itu diprakarsai oleh Sultan Hamengkubuwono IX.
Sultan Hamengkubuwono IX lah yang memimpin serangan umum melawan Belanda, bukan Soeharto.
Hamengkubuwono IX adalah seorang
nasionalis yang memiliki perhatian terhadap nasib rakyatnya, karena itu
ia tidak mau untuk di jajah. Kedepannya, Sultan Hamengkubuwono IX
menjadi Menteri Pertahanan Republik Indonesia.
Nasution Pecat Suharto Secara Tak Hormat Dari Pangdam Diponegoro
Pada 1959, Suharto yang kala itu menjabat sebagai Pangdam Diponegoro dipecat oleh Jenderal Abdul Haris Nasution
dengan tidak hormat, karena Suharto telah menggunakan institusi
militernya untuk mengumpulkan uang dari perusahaan-perusahaan di Jawa
Tengah.
Suharto kala itu juga ketahuan ikut
kegiatan ilegal berupa penyelundupan gula dan kapuk bersama Bob Hasan
dan Liem Sioe Liong. Untuk memperlancar penyelundupan ini, didirikan
perusahaan perkapalan yang dikendalikan Bob Hasan.
Konon, dalam menjalankan bisnis haramnya ini, Bob menggunakan kapal-kapal ‘Indonesian Overseas’
milik C.M. Chow. Mungkin, sejarah nyata pemecatan dengan tidak hormat
inilah yang bisa jadi mirip “kutukan” jika suatu saat dinastinya masuk
kembali ke dalam kemiliteran, akan dipecat dengan tidak hormat pula.
baca selengkapnya ....https://indocropcircles.wordpress.com/2014/09/29/ketika-suharto-dipecat-tidak-hormat/



No comments:
Post a Comment