Di manakah Sang Proklamator, Presiden RI Pertama yang bernama asli Kusno dan akhirnya lebih dikenal oleh semua orang termasuk dunia internasional dengan nama Soekarno dilahirkan, sebenarnya sudah menjadi kontroversi sejak lama.
Di situs Wikipedia, telah dicantumkan bahwa Soekarno lahir di Soerabaia, Dutch East Indies, pada 6 June 1901.
Sukarno lahir di rumah sederhana beralamat Pandean gang IV no.40, Kelurahan Peneleh, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya.
Di atas pintu rumah terpasang plakat
berwarna kuning keemasan bertuliskan “Rumah Kelahiran Bung Karno” dengan
logo Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya.
Namun dalam resensi atas terbitnya autobiografi Sukarno: An Autobiography (As Told to Cindy Adams), yang dalam versi Bahasa Indonesia menjadi “Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia“, Paul van ‘t Veer sudah menyoroti kesimpangsiuran tempat di mana Soekarno lahir.
1. Menurut Buku: Soekarno: Kopstukken uit de Twintigste Eeuw

Menurut Van’t Veer, juga seorang penulis biografi Soekarno: Kopstukken uit de Twintigste Eeuw atau yang berarti “Soekarno: Tokoh Abad Ke-20” edisi terbitan tahun 1965, kesimpang-siuran tersebut ditemukan dalam biografi-biografi resmi Indonesia mengenai Soekarno.
Berikut petikan dari buku biografi “Soekarno: Kopstukken uit de Twintigste Eeuw”:
“Over de jeugd van Soekarno was tot nog toe weinig bekend. Officiële Indonesische biografieën bevatten volstrekt tegenstrijdige gegevens over zijn geboorteplaats, zijn schooltijd, en zijn vader.”
“Hij zelf vertelt
nu dat hij op 6 juni 1901 te Soerabaja geboren is (voordien werd vaak
vermeld: Blitar) als zoon van een dorpsonderwijzer die Soekemi
Sosrodihardjo heette en de adellijke titel van raden (‘jonkheer’)
voerde.” (Het Vrije Volk, 4-12-1965).
Atau dalam bahasa Indonesia:
“Mengenai masa belia Soekarno hingga saat ini kurang diketahui. Biografi-biografi resmi Indonesia mengandung data yang sepenuhnya saling bertentangan mengenai tempat lahir, masa sekolah, dan ayahnya.”
“Dia sendiri sekarang menceritakan bahwa dia lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901 (sebelumnya sering ditulis: Blitar) sebagai anak seorang guru desa bernama Soekemi Sosrodihardjo dan menyandang gelar bangsawan Raden (red)”. (Sumber: Het Vrije Volk, Sabtu 4 Desember 1965).
2. Menurut situs Tropenmuseum
Dalam laman situs Tropenmuseum juga bisa ditemukan data yang menyebutkan bahwa Soekarno dilahirkan di Blitar.
“Soekarno (ook wel
gespeld als Sukarno), geboren als Kusno Sosrodihardjo, Blitar, 6 juni
1901 – Jakarta, 21 juni 1970 was de eerste president van de Republiek
Indonesië…” (tropenmuseum.nl)
Atau dalam bahasa Indonesia:
“Soekarno (juga dieja sebagai Sukarno) lahir dengan nama Kusno Sosrodihardjo, Blitar, 6 Juni 1901 – Jakarta, 21 Juni 1970) adalah presiden pertama Republik Indonesia…(red)” (Sumber: tropenmuseum.nl)
3. Menurut berita harian De Tijd, “Soeharto Niet Bij Begrafenis Soekarno (Selasa 23 Juni 1970)
Dalam berita harian De Tijd, “Soeharto Niet Bij Begrafenis Soekarno (Soeharto Tidak Hadiri Pemakaman Soekarno)” yang mewartakan saat Vader van Indonesie
(Bapak Indonesia) itu wafat, dan Soeharto tidak menghadiri pemakaman
Sang Proklamator, juga bisa ditemukan tautan Blitar sebagai kota
kelahirannya.
Berikut petikannya:
“De voormalige president Soekarno “Vader van Indonesië”… is ten grave gedragen vlakbij de stoffige provinciestad Blitar in Oost-Java waar hij bijna 69 jaar geleden werd geboren ” (De Tijd, 23-06-1970, “Soeharto Niet Bij Begrafenis Soekarno)
Atau dalam bahasa Indonesia:
“Mantan presiden Soekarno “Bapak Indonesia”… dimakamkan dekat kota provinsi Blitar yang berdebu di Jawa Timur di mana dia hampir 69 tahun lalu dilahirkan (De Tijd, Selasa 23 Juni 1970, Soeharto Tidak Hadiri Pemakaman Soekarno).
Jadi yang benar yang mana? Surabaya atau
Blitar? Blitar atau Surabaya? Bukankah sejak dulu, apalagi pada awal
abad ke-20, masyarakat bangsa kita secara umum kurang tertib dengan
tanggal dan tempat lahir?
Malahan, istri apalagi anak kandung juga
tak menjamin seorang bapak benar-benar dilahirkan seperti apa yang
diucapkan oleh yang bersangkutan. Mengapa? Ya tentu saja karena pada
saat menikah, seorang pria pastinya sudah dewasa, apalagi anak: belum
lahir.
Jadi ke-valid-an atau kepastian sebuah
kelahiran pada masa lalu oleh istri ataupun anaknya, tak menjamin
seseorang memang dilahirkan di suatu tempat yang ia sebutkan, karena
belum ada dokumen yang bernama “akte kelahiran” apalagi untuk pribumi
pada masa kolonial.
Pada masa lalu, tanggal dan tempat lahir
hanya dihafal, disampaikan turun temurun dengan bertutur, tapi tidak
dicatat atau ditulis. Bahkan tak sedikit pula pada masa lalu, tanggal
dan tempat lahir dikarang baru, ketika menjelang kelulusan sekolah.
Percaya atau tidak, namun cara menghafal
tempat lahir hanya diingatan luar kepala pada masa zaman penjajahan
kolonial seperti itu, memang nyata adanya. Jadi jangan heran jika banyak
orang pada masa itu tak memiliki akte kelahiran.
Kami pun sejak dulu tak menyangkal, bahwa
sosok sang Proklamator Bangsa Indonesia ini memang sosok yang misterius
sejak lama. Kejatuhan kepemimpinannya oleh Presiden Soeharto, juga
sosok yang misterius.
Presiden pertama dam kedua Indonesia
tersebut memang dikenal memiliki latar belakang dan perjalanan hidup
yang dapat dibilang “samar-samar” atau tak diketahui dengan pasti.
Namun banyak orang tua yang masih meyakini bahwa yang lahir di Surabaya adalah Kusno, pada tgl 6 Juni 1901. Dan yang dimakamkan di Blitar adalah Sukarno!. (sumber: Detik/ Tropenmuseum / De Tijd / ICC / berbagai sumber).
![]() |
| Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sedang memandang lukisan Soekarno, presiden pertama Indonesia |
.



No comments:
Post a Comment