TERBENTUKNYA PERADABAN AWAL MASYARAKAT INDONESIA
A. Asal Usul dan
Persebaran Manusia
1. "Hawa Mitokondria" dan "Adam
Kromosom Y" Asal Mula Manusia Modern
Selama berpuluh-puluh tahun
petunjuk satu-satunya dalam penelitian persebaran manusia purba adalah
fosil-fosil dan artefak-artefak yang ditinggalkan dalam pengembaraan mereka.
Penelusuran asal usul manusia seperti mendapatkan darah baru, setelah penerapan
teknologi genetika dengan menggunakan DNA mitokondria (mtDNA) untuk
mencari tahu hubungan kekerabatan antarpopulasi. Terobosan itu membuka pintu gerbang menuju pengungkapan cikal-bakal manusia
modern atas dasar persamaan genetik.
Setiap tetes darah manusia berisi
buku sejarah yang ditulis dalam bahasa genetika. Kode-kode genetika manusia
atau genom, adalah 99,9 persen identik di seluruh dunia. Selebihnya ialah DNA
yang bertanggungjawab terhadap perbedaan individual, seperti warna mata, resiko
penyakit, dan beberapa DNA yang tidak begitu jelas fungsinya.
Suatu ketika dalam perubahan
genetika yang langka, mutasi acak dan tidak berbahaya dapat terjadi dalam salah
satu DNA yang tak berfungsi tersebut, yang kemudian diwariskan ke semua
keturunan orang itu. Namun, mutasi-mutasi yang memberikan petunjuk tetap
terlindungi. Salah satunya adalah DNA mitokondria (mtDNA), yang
diteruskan utuh dari ibu ke anak. Demikian juga sebagian besar kromoson Y, yang
menentukan laki-laki, berpindah utuh dari ayah ke anak laki-laki.
Berdasarkan penelitian mtDNA dari
berbagai populasi, para ilmuwan menyimpulkan, bahwa manusia modern sekarang ini
semua merupakan satu keturunan dari satu nenek moyang ("Hawa"
mitokondria). Hawa mitokondria segera bergabung dengan "Adam kromosom
Y". Semua umat manusia terkait dengan Hawa mitokondria melalui rantai para
ibu yang tak terpatahkan.
Oleh karena itu, DNA Mitokondria
dapat digunakan untuk merekonstruksi sejarah asal usul dan persebaran manusia
dari sisi ibu (maternal). Orang-orang di dari berbagai belahan dunia memiliki
garis keturunan berbeda, tetapi mereka mtDNA dan kromoson Y purba yang setara.
Untuk mempelajari persebaran manusia purba/ penelitian DNA mitokondria ini
menggunakan sumber genetik yang dapat bertahan dalam waktu lama, yaitu tulang-belulang
yang sudah menjadi fosil.
Kesimpulan itu membuka cakrawala
baru bahwa manusia modern bukanlah keturunan dari manusia purba semacam Homo
Sapiens yang hidup 500.000 tahun lalu, atau bahkan, spesies yang lebih tua
seperti Homo Habilis (2,5-1,6 juta tahun lalu), Homo Ergaster
(1/8-1,4 juta tahun lalu), dan Homo Erectus (1,5 juta tahun lalu).
2. Folimorfisme
Polimorfisme adalah sifat keragaman sel yang disebabkan oleh adanya sejumlah mutasi
yang terjadi secara alamiah dan tidak membawa akibat buruk yang memunculkan
variasi individu-individu yang khas. Sifat keberagaman gen (polimorfisme)
ini juga dapat digunakan dalam rangka penelusuran asal usul manusia dan
hubungan kekerabatan antara berbagai ras dan suku, dan untuk membedakan ras
yang satu dengan yang lain. Rangkaian informasi genetik yang terkandung dalam
DNA mitokondria dapat juga menggambarkan karakteristik suatu populasi.
Oleh karena, itu jauh-dekatnya
kekerabatan suatu kelompok suku bangsa dapat dilihat dari persamaan variasi
dari suku bangsa tersebut. Semakin besar jumlah variasi yang memisahkan dua
kelompok etnik, semakin jauh jarak kekerabatan antara kedua kelompok tersebut.
Sebaliknya jika ada dua orang yang mtDNA-nya persis sama, maka kekerabatan di
antara keduanya sangat dekat, mungkin satu ibu, satu nenek, atau satu nenek
moyang.
3. Daerah Asal Manusia
Pada pertengahan tahun 1980-an
Allan Wilson dan rekan-rekan di University of California, Barkeley, menggunakan
mtDNA untuk mengidentifikasikan tempat asal nenek moyang umat manusia. Mereka
membandingkan mtDNA dari wanita-wanita di seluruh dunia dan menemukan bahwa
wanita-wanita keturunan Afrika menunjukkan keanekaragaman dua kali lebih banyak
daripada kaum wanita lain.
Max Ingman, doktor genetik asal
Amerika Serikat mengungkapkan hal senada dengan pendapat bahwa manusia modern
berasal dari salah satu tempat di Afrika antara kurun waktu 100 - 200 ribu
tahun lalu. Dari situ moyang manusia masa kini itu lantas menyebar dan mendiami
tempat-tempat di luar Afrika. Gen manusia modern ini tidak bercampur dengan gen
spesies manusia purba.
Sekitar 50.000 hingga 70.000
tahun silam, satu gelombang kecil manusia yang mungkin hanya berjumlah seribu
orang dari Afrika menuju pantai-pantai Asia bagian Barat. Ada dua jalur
tersedia menuju Asia. Pertama mengarah ke Lembah Sungai Nil, melintasi
Semenanjung Sinai lalu ke utara lewat Levant. Namun, jalur yang satunya juga
mengundang untuk dijelajahi, yaitu melintasi Laut Merah. Pada saat itu (70.000
tahun yang lalu) bumi memasuki zaman es terakhir dan permukaan laut menjadi
lebih rendah karena air tertahan dalam gletser. Pada bagian tersempit di muara
Laut Merah hanya berjarak beberapa kilometer. Dengan menggunakan perahu
primitif, manusia modern dapat menyeberangi laut untuk pertama kalinya.
Setelah berada di Asia, bukti
genetis memperkirakan populasi terpecah. Satu kelompok tinggal sementara di
Timur Tengah, sementara kelompok lain menyusuri pantai sekitar Semenanjung
Arab, India dan wilayah Asia yang lebih jauh. Setiap generasi mungkin bergerak
hanya beberapa kilometer lebih jauh.
Para pengembara telah mencapai
Australia Barat Daya 45.000 tahun lalu. Hal ini terbukti dengan penemuan fosil
seorang pria di Lake Mungo. Fosil-fosil lain yang belum terungkap di dalam
tanah mungkin berusia lebih tua yaitn sekitar 50.000 tahun yang lalu. Hal ini
menjadi bukti paling awal manusia modern yang berada jauh dari Afrika.
Tidak ada jejak fisik berupa
fosil orang-orang ini sepanjang sekitar 13.000 kilometer dari Afrika ke
Australia. Semua mungkin sudah lenyap saat air laut naik sesudah zaman es.
Namun jejak genetika berlangsung terus. Beberapa kelompok pribumi pada
kepulauan Andaman dekat Myanmar, Malaysia dan Papua Nugini, serta orang
Aborigin di Australia memiliki tanda garis keturunan mitokondria purba.
B. Asal Usul dan Persebaran
Manusia di Kepulauan Indonesia
Kehidupan manusia di mana pun dia
berada, tidak pernah terlepas dari alam yang melingkunginya. Interaksi antara
manusia dengan alam itulah yang bisa mendorong lahirnya kebudayaan. Oleh karena
itu, cara paling baik untuk mengetahui bagaimana kehidupan manusia pada
masa-masa awal, bisa dimulai dengan menganalisis struktur dan umur bumi. Dan hal
ini bisa diawali dengan meneliti fosil yang ditemukan. Dari situlah, kita bisa
mengetahui seperti apa wujud manusia, kapan dia hidup, berapa umurnya, dan
bagaimana bentuk kebudayaannya.
Untuk bisa mengetahui bagaimana
karakteristik bumi dari zaman ke zaman itu, kita perlu bantuan ilmu geologi dan
geografi. Menurut ilmu geologi, bumi itu dibagi menjadi beberapa zaman.
1. Zaman Arkhaicum atau Zaman Tertua
Periode mi terjadi kira-kira beberapa puluh juta tahun Sebelum Masehi.
Zaman ini berlangsung kira-kira 2500 juta tahun yang lalu. Pada masa ini, belum
ada binatang-binatang yang bertulang, yang hidup hanyalah binatang-binatang
rendah.
2. Zaman Palaeozoicum atau Zaman Pertama
Periode ini terjadi kira-kira 340 juta tahun Sebelum Masehi. Hidup
pada masa ini ikan dan binatang yang hidup di darat maupun di air.
3. Zaman Mesozoicum atau Zaman Kedua
Periode ini terjadi kira-kira 140 juta tahun Sebelum Masehi. Pada
masa ini telah hidup binatang reptil yang besar, ikan-ikan yang besar, dan
beberapa binatang yang menyusui.
4. Zaman Neozoicum
Zaman ini terbagi lagi menjadi beberapa zaman, yaitu:
a. Zaman Ketiga
Periode ini terjadi kira-kira 60 juta tahun yang lalu. Pada periode ini,
sudah banyak ditemukan binatang menyusui. Bahkan pada akhir zaman ini sudah,
ada beberapa kera seperti manusia, misalnya gorila, orang utan, dan
se-bagainya.
b. Zaman Keempat
Periode ini terjadi kira-kira
600.000 tahun yang lalu. Manusia
dipastikan telah ada pada masa ini. Zaman ini terbagi menjadi dua periode,
yaitu Diluvium atan zaman es dan Alluvium yaitu zaman yang kita
alami sekarang, yang terdiri atas diluvium tua, tengah, dan muda. Dalam ilmu
Geologi, zaman diluvium disebut juga zaman pleistosen atau zaman glasial
atau zaman es. Sedangkan zaman alluvium disebut juga zaman Holosen di
mana mulai hidup Homo sapiens.
Kepulauan Indonesia sendiri
pada zaman pleistosen yaitu saat manusia telah hidup dan berkembang,
masih bersatu dengan daratan Asia Tenggara. Coba kamu amati peta Asia Tenggara
pada zaman pleistosen. Karena air yang ada di Kutub Utara dan Selatan
membeku hingga sampai ke lintang 60°, maka permukaan air laut turun sampai 70
meter dari keadaan sekarang. Salah satu akibatnya adalah wilayah Indonesia
bagian barat bersatu dengan daratan atau kontinen Asia dan wilayah Indonesia
bagian timur bersatu dengan Benua Australia. Kamu tentu bisa menghubungkan
fenomena ini dengan kemiripan flora dan fauna yang ada di kedua bagian
Indonesia itu, dengan yang ada di kedua benua tersebut. Kebanyakan binatang
yang ada di Indonesia bagian barat mempunyai kesamaan dengan yang ada di
daratan Asia, sementara yang berada di kawasan Indonesia Timur mempunyai
kemiripan dengan binatang yang ada di Benua Australia. Mungkinkah fenomena itu juga bisa digunakan untuk merunut asal usul
manusianya?
C. Beragam Teori Muncul dan Berkembangnya
Manusia
Kamu telah mengetahui pada zaman apa manusia ada
di muka bumi. Pertanyaan mendasar yang mengemuka adalah pada periode apakah
manusia itu muncul dan berkembang serta dari manakah asal usulnya? Permasalahan inilah yang hingga saat ini menjadi kontroversi dan perdebatan
di antara para ilmuwan. Berikut ini kita deskripsikan beberapa teori dan
pendapat para ilmuwan yang berkaitan dengan asal-usul serta perkembangan
manusia.
a. Kalangan Evolusionis
Tokoh-tokoh pemikir Yunani Kuno
seperti Empodocles, Anaximander, dan Aristoteles berpendapat bahwa baik
tumbuhan maupun hewan itu mengalami evolusi dan dari tubuh binatang tertentu
berevolusi menjadi manusia. Mereka mengatakan bahwa binatang yang satu berasal
dari binatang yang lain.
b. Ernest Haeckel (1834-1919)
Ilmuwan biologi dari Jerman ini berpendapat bahwa asal usul kehidupan yang
pertama berasal dari zat putih telur yang liat dan cair. Akibat pengaruh dari
luar maka terciptalah bakteri, amuba, binatang berongga, ikan, amfibi, reptil,
dan binatang yang menyusui anak. Binatang-binatang itn saling memengaruhi satu
dengan yang lainnya. Pada zaman tersier (ketiga) dari binatang menyusui itu
berkembang dan muncullah manusia. Haeckel berkesimpulan, bahwa nenek . moyang
manusia itu berasal dari bangsa kera atau monyet dalam tingkatan yang teratur.
c. Charles Robert Darwin
(1809-1882)
Darwin adalah ilmuwan Inggris
yang kemudian dikenal sebagai tokoh evolusi itu, memaparkan teorinya menjadi
dua kelompok, yaitu:
1) Teori Descendensi atau Turunan
Dalam bukunya yang berjudul The
Descen of Man (1871), Darwin berkata bahwa manusia lebih dekat dengan kera
besar di Afrika (gorila dan simpanse). Teori lainnya menyebutkan bahwa makhluk
yang lebih tinggi itu berasal dari makhluk yang lebih rendah. Akhirnya, semua
makhluk hidup bisa di-kembalikan kepada beberapa bentuk asal.
2) Teori Natural Selection
atau Seleksi Alam
Teori ini mencoba member! keterangan tentang
terjadinya tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang yang menyesuaikan diri kepada
alam sekitarnya. Darwinisme adalah sebuah teori yang mengatakan bahwa semua
barang-barang yang hidup dapat maju perlahan-lahan naik ke atas. Keyakinan
Darwin bahwa manusia itu berasal dari hewan, telah memicu perdebatan
antarilmuwan dan kontroversi bahkan hingga kini. Dalam kerangka teori Darwin
itu pulalah, berbagai penemuan fosil manusia purba yang ada di Indonesia
senantiasa dikaitkan.
Asal usul kehidupan awal manusia
dan masyarakat di Indonesia dengan beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk
melacak asal usul kehidupan manusia dan masyarakat awal di Indonesia.
a. Berdasarkan Rumpun Kebahasaan
Menurut penelitian, penduduk di wilayah Indonesia (selain orang Irian dan
Halmahera) mempunyai banyak persamaan dalam hal ras, kebudayaan, serta bahasa.
Dengan menggunakan hukum-hukiim suara, kita bisa menemukan adanya rumpun
kebahasaan.
"Bahasa menunjukkan bangsa, tiada bahasa hilanglah bangsa," kata
Muhammad Yamin. Nah, ketika kita mempelajari bahasa Indonesia, kita mengenal
adanya rumpun bahasa yang meliputi kawasan Asia Tenggara yang . disebut rumpun
bahasa Austria. Rumpun bahasa ini terbagi menjadi dua kelompok yaitu bahasa
Austro-Asia yaitu bahasa-bahasa di India (Mundha) dan Mon Khmer di India
Belakang, serta bahasa Austronesia yang meliputi bahasa Indonesia,
Melanesia, Micronesia, dan Polinesia.
Menurut Dr. H. Th. Fischer dalam bukunya Pengantar Antropologi
Kebudayaan Indonesia, bila ditinjau dari fisiknya maka penduduk asli Indonesia
terdiri atas tiga golongan. Pertama, golongan Negrito dengan
ciri-ciri berkniit hitam, ranibul keriling, tubuhnya kecil dan tingginya
rata-rata 1,5 m. Profil semacam ini terdapat pada orang Tapiro di Irian. Kedua,
golongan Weddoid dengan ciri khas rambut berombak tegang, lengkung alis
menjorok ke depan, dan kulitnya agak cokelat. Profil semacam ini terdapat pada
bangsa Senoi di Malaka, Sakai di Siak, Knbn di Palembang, dan Tomnna di
Sulawesi. Ketiga, golongan Melayu dengan ciri tubuh lebih tinggi
dan ramping, wajahnya bundar, hidung pesek serta berambut hitam. Golongan ini
terbagi menjadi dua kelompok yaitu Proto-Melayu dan Deutero-Melayu.
Von Eichstedt menamakannya sebagai Palaeo-Mongolid. Profil Proto-Melayu terdapat pada suku bangsa Mentawai, Toraja, dan Dayak.
Kelompok ini disebut juga Melayu Tua. Profil Deutero-Melayu terdapat pada suku
bangsa Sunda, Jawa, Minangkabau, Bali, dan Makassar. Kelompok ini disebut juga
kelompok Melayu Muda.
1. Bangsa Melayu Berasal dari Utara yaitu Asia Tengah
Ada beberapa ilmuwan yang mengatakan bahwa bangsa Melayu berasal dari
daratan Asia bagian tengah. Sekilas akan kita deskripsikan siapa tokoh dan
teorinya dalam deskripsi berikut ini:
a) Berdasarkan penelitian terhadap kapak tua (beliung batu) yang ada di
sekitar hulu Sungai Brahmaputra, Irrawaddy, Salween, Yangtze, dan Hwang,
mempunyai kemiripan dengan yang ada di Indonesia, la berkesimpulan bahwa kapak
tua itu dibawa oleh orang Asia Tengah ke Kepulauan Indonesia (R.H. Geldern)
b) Setelah meneliti beberapa perkataan yang digunakan sehari-hari terutama
mengenai nama-nama tumbuh-tumbuhan, hewan, dan nama perahu, terdapat persamaan
bahasa baik di Indonesia, Madagaskar, Filipina, Taiwan, dan Kepulauan Pasifik.
Kesimpulannya: bahasa Melayu itu berasal dari satu induk yang ada di Asia
(J.H.C. Kern).
c) Kesimpulan penelitiannya menunjukkan bahwa bahasa Melayu dan bahasa
Polinesia (yang digunakan beberapa pulau di Kepulauan Pasifik) ternyata
serumpun. Sementara itu, E. Aymonier dan A. Cabaton menemukan bahwa bahasa
Campa serumpun dengan bahasa Polinesia, di mana keduanya merupakan warisan dari
bahasa Melayu Kontinental (W. Marsden).
d) Antara bahasa Melayu dan bahasa Polinesia terdapat kesamaan pembentukan
kata. Kedua bahasa itu berasal dari bahasa yang lebih tua yang disebut Melayu
Polinesia Purba. Sementara itu, A.H. Keane menemukan bahwa struktur bahasa
Melayu serupa dengan bahasa di Kampuchea (J.R. Foster).
e) Ada kesamaan adat kebiasaan antara suku bangsa Naga di Assam (daerah Burma
dan Tibet) dengan suku bangsa Melayu. Persamaan adat itu juga berkait erat
dengan bahasanya. Dari situ tentu bahasa Melayu berasal dari Asia. Pendapat
Logan didukung oleh G.K. Nieman dan R.M. Clark serta Slamet Muljana dan Asmah
Haji Omar. Maka Slamet Muljana berkesimpulan bahwa bahasa Austronesia (termasuk
di dalamnya bahasa Melayu) berasal dari Asia. Sedangkan Asmah Haji Omar
menguraikan bahwa perpindahan orang Melayu dari daratan Asia ke Indonesia tidak
sekaligus. Ada yang melalui daratan yaitu tanah semenanjung melalui Lautan
Hindia, ada pula yang melalui Laut Cina Selatan (J.R. Logam).
Secara ringkas, perpindahan orang
Melayu dari Asia Tengah dapat dijelaskan dengan merunut latar belakang asal
usul orang Negrito, Proto-Melayu, dan Deutero-Melayu. Sebelum kedatangan bangsa
Melayu, Kepulauan Indonesia dihuni oleh penduduk asli yang disebut sebagai
orang Negrito. Mereka hidup kira-kira sejak tahun 8000 Sebelum Masehi, tinggal
di dalam gua dengan mata pencaharian berburu binatang. Alat yang mereka gunakan
terbuat dari batu dan zaman ini disebut sebagai zaman batu pertengahan. Profil
orang ini ditemukan pada bangsa Austronesia yang menjadi cikal bakal orang
Negrito, Sakai, dan Semai yang hidup pada zaman paleolit dan mesolit.
Gelombang pertama kedatangan
orang-orang Asia Tengah diperkirakan pada tahun 2500 Sebelum Masehi. Mereka
disebut sebagai Proto-Melayu. Peradabannya lebih maju apabila dibandingkan
dengan orang Negrito, karena mereka telah pandai membuat alat bercocok tanam,
barang pecah belah, dan perhiasan. Kelompok ini hidup berpindah-pindah dan
hidup pada zaman neolitik atau zaman batu baru. Gelombang kedua terjadi pada
tahun 1500 Sebelum Masehi terdiri atas orang Deutero-Melayu. Peradabannya lebih
maju lagi apabila dibandingkan dengan orang Proto-Melayu. Mereka telah mengenal
kebudayaan logam karena menggunakan alat perburuan dan pertanian yang terbuat
dari besi. Selain itu,, mereka telah menetap di suatu tempat, mendirikan
kampung, bermasyarakat, dan menganut animisme. Mereka hidup di zaman logam di
sekitar pantai Kepulauan Indonesia. Kedatangan Deutero-Melayu ini mendesak
Proto-Melayu, hingga mereka pindah ke pedalaman.
2. Bangsa Melayu Berasal dari Nusantara
Ada beberapa ilmuwan yang mendukung
teori ini. Beberapa di antaranya bisa diperhatikan pada deskripsi di bawah ini.
a) Setelah membuat perbandingan bahasa-bahasa di Sumatra, Jawa, Kalimantan,
serta kawasan Polinesia, ia berkesimpulan bahwa asal bahasa yang ada di
Kepulauan Indonesia berasal dari bahasa Jawa di Jawa dan bahasa Melayu di
Sumatra. Kedua bahasa itu merupakan induk bahasa-bahasa di Indonesia. Alasan
yang ia kemukakan adalah bahwa bangsa Jawa dan bangsa Melayu telah mencapai
peradaban yang tinggi pada abad XIX. Hal ini bisa dicapai, karena selama
berabad-abad kedua bangsa itu telah mempunyai kebudayaan yang maju.
Kesimpulannya: orang Melayu tidak berasal dari rnana-mana, tetapi merupakan
induk yang menyebar ke tempat lain. Sedang bahasa Jawa adalah bahasa tertua
yang menjadi induk dari bahasa-bahasa yang lain (J. Crawfurd).
b) Bangsa-bangsa berkulit cokelat yang hidup di Asia Tenggara seperti
Thailand, Malaysia, Singapura, Indonesia, Brunei, dan Filipina adalah bangsa
Melayu yang berasal dari rumpun bahasa yang satu. Bahkan mereka bukan saja sama
kulitnya, tetapi bentuk dan anggota badannya sama dan membedakannya dari bangsa
Cina di sebelah timurnya atau bangsa India di sebelah baratnya (Sutan Takdir
Alisyabana).
c) Dengan teori leksikostatistik dan teori migrasi ia meneliti asal usul
bangsa dan bahasa Melayu. Kesimpulannya: tanah air dan nenek moyang bangsa
Austronesia haruslah daerah Indonesia dan Filipina yang dahulunya merupakan
kesatuan geografis (Gorys Keraf).
d) Pada saat es mencair pada zaman
kuarter (satu juta tahun hingga 500.000 yang lalu), air menggenangi
daratan-daratan yang rendah. Daratan tinggi membentuk pulau dan memisah
daratan-daratan rendah. Saat inilah Semenanjung Malaka berpisah dengan daratan
lain dan membentuk Kepulauan Indonesia. Dampaknya adalah tiga kelompok Homo
sapiens yaitu orang Negrito di sekitar Irian dan Melanesia, orang Kaukasus di
Indonesia Timur, Sulawesi dan Filipina, serta orang Mongoloid di utara dan
barat lautAsia, berpisah satu dengan yang lain (Pendapat lainnya).
Dari deskripsi di atas, kita bisa
merekonstruksi kehadiran suatu bangsa dengan merunut penggunaan bahasanya.
Perkembangan suatu bahasa memang bisa meliputi suatu kawasan yang sangat luas
dan terjadi dalam kurun waktu yang lama. Dari studi kebahasaan ini, kita bisa
mengetahui dari mana sebuah bahasa berasal dan ke arah mana bahasa
itu berkembang. Dari sinilah kila bisa mengetahui bangsa yang menjadi pemakai
bahasa tersebut.
b. Berdasar Temuan Arkeologis
Sungguh beruntung kita hidup di
wilayah Indonesia. Berbagai tempat di negara kita ternyata termasuk dalam
wilayah "dunia lama" yang menjadi salah satu situs tempat
ditemukannya manusia-manusia purba. Dari berbagai penemuan fosil di beberapa
tempat, kita bisa sedikit menguak bagaimana kehidupan manusia pada masa-masa
awal peradaban. Setidaknya ada tiga fosil yang bisa dijadikan pembuka tabir
kehidupan manusia di masa lampau.
Pada tahnn 1898 seorang dokter
Belanda, Engene Dubois menemukan sekelompok fosil di Lembah Sungai Bengawan
Solo (di Desa Kedung Brubus dan Trinil), yang terdiri atas tengkorak atas,
rahang bawah, dan sebuah tulang paha. Isi otak makhink itu lebih besar apabila
dibandingkan dengan jenis kera, namun jauh lebih kecil apabila dibandingkan
dengan isi otak mannsia. (Perbandingan isi otaknya adalah 800 cc:
1.500 cc). Gigi pada fosil itu
menunjukkan sifat manusia, sedang tulang pahanya menunjukkan ia bisa berdiri
tegak. Fosil ini kemudian ia namai dengan Pithecanthropus erectus atau
manusia kera yang berjalan tegak. Dubois meyakininya sebagai nenek moyang manusia
zaman sekarang. Benarkah teori Dubois tersebut?
Fenomena kehidupan manusia
Indonesia di masa lampau semakin terkuak, setelah sekitar dua puluh fosil
berhasil ditemukan di berbagai daerah antara tahun 1931-1934. Ahli geologi dari
Jerman yang bernama G.H.R. von Koenigswald menemukan empat betas fosil Pithecanthropus
yang terdiri atas dua betas tengkorak dan dua tibia (tulang kering) di Desa
Ngandong di sekitar Lembah Bengawan Solo. Semua fosil yang ditemukan pada
lapisan pleistosen tengah itu kemudian diteliti secara mendalam oleh ahli
palaeoantropologi kita yaitu Teuku Jacob. Dalam disertasi berjudul Some Problems
Pertaining to the Racial History of the Indonesian Region yang ia
pertahankan di Universitas Utrecht tahun 1967, fosil yang semula disebut Homo
soloensis itu kemudian ia sebut Pithecanthropus soloensis. Diduga
umurnya antara 800.000 hingga 200.000 tahun. Pada tahun 1938 ditemukan fosil di
Desa Perning (Mojokerto) dan Trinil (Surakarta) yang
diperkirakan berumur 2.000.000 tahun dan diberi nama Pithecanthropus
Mojokertensis.
Von Koenigswald kembali menemukan
fosil di Sangiran pada tahun 1941 yang terdiri atas bagian rahang bawah (mirip
rahang manusia) dengan ukuran yang sangat besar bahkan melebihi ukuran gorila
jantan. jantan. Dari situ kemudian diberi nama Meganthropus palaeojavanicus
atau* Manusia Besar dari Jawa zaman kuno (mega=besar, anthropus=manusia).
Penemuan berikutnya terjadi di Desa Sangiran (lima fosil) dan Sambungmacan,
Sragen serta berbagai tempat lainnya hingga semua fosil berjumlah 41 buah.
Lalu, teori apa yang kita dapat
setelah menganalisis serangkaian penemuan fosil-fosil tersebut? Teuku Jacob
berpendapat bahwa makhluk pithecanthropus itu belum berbudaya. Alasannya
sebagai berikut. (1) Suatu fakta bahwa tidak pernah ditemukan adanya peralatan
di sekitar penemuan fosil, yang menunjukkan bahwa makhluk itu sudah berbudaya.
(2) Volume otak Pithecanthropus masih terlampau kecil bila
dibandingkan dengan makhluk manusia sekarang. Volume otak bisa diperkirakan
dari kapasitas rongga tengkoraknya. Dari hasil penelitian diperoleh data bahwa
volume otak Pithecanthropus erectus sekitar 800 cc, Pithecanthropus
soloensis (1.000 cc), sedang manusia sekarang rata-rata 1.500 cc. Dengan
demikian, sulit dipercaya bahwa makhluk itu telah mempunyai akal. (3) Rongga
mulut tengkorak Pithecanthropus menunjukkan bahwa makhluk itu belum bisa
menggunakan bahasa. Dengan keterbatasan akal dan ketiadaan bahasa, sulit bagi
makhluk ini untuk secara sadar membuat pola-pola kehidupan yang teratur. Akal
dan bahasa memang merupakan kunci berkembangnya sebuah kebudayaan. Berkat
adanya evolusi dan adaptasi terhadap lingkungan alamnya, tentu makhluk ini juga
berkembang pula keahlian serta kebudayaannya.
Namun, terlepas dari perdebatan
dan kontroversi yang menyertai penemuan fosil-fosil itu, adasatu hal yang
disepakati oleh para ahli palaeoantropologi yaitu bahwa Pithecanthropus
(termasuk di dalamnya Meganthropus palaeojavanicus) dianggap sebagai
makhluk pendahuluan manusia di kawasan Asia, khususnya Asia Tenggara. Mereka
hidup 2.000.000 hingga 200.000 tahun yang lalu, terdiri atas kelompok-kelompok
berburu kecil beranggotakan 10 sampai 12 individu. Rata-rata setiap individu
berumur 20 tahun, sehingga Pithecanthropus yang berusia 10 tahun telah
merupakan makhluk dewasa. Maka, menjadi tidak mengherankan apabila di berbagai
tempat di Indonesia ditemukan kelompok-kelompok fosil dari makhluk purba. Hanya
saja, meskipun mereka mungkin telah menggunakan beberapa alat untuk membantu
keterbatasan kemampuan organismenya, namun mereka belum dianggap sepenuhnya
sebagai makhluk manusia yang berbudaya.
Itulah deskripsi singkat tentang beberapa teori yang berkaitan dengan asal
usul manusia di Indonesia. Tentu masih banyak lagi teori-teori yang lain yang
diungkapkan oleh sejumlah ilmuwan baik dari dalam maupun dari luar negeri.
Antara lain kamu bisa mencarinya di situs-situs yang ada di internet atau
melalui beragam pustaka. Misalnya pada situs http://www.harunyahya.com,
di sini kamu bisa mengikuti perdebatan seputar penemuan-penemuan manusia dari
beberapa ilmuwan. Dengan mengikuti perdebatan itu tentu kamu akan bertambah
kritis, luas wawasan dan tidak ketinggalan zaman dalam mengikuti perkembangan
mutakhir seputar teori-teori mengenai penemuan manusia.
D. Perkembangan Manusia Purba di Indonesia
1. Kondisi Alam Indonesia
Konon pada zaman es, wilayah kita terbagi menjadi dua bagian. Wilayah barat
yang disebut Paparan Sunda menjadi satu dengan Asia Tenggara
kontinental. Paparan ini meliputi Jawa, Kalimantan, serta Sumatra dan menjadi
satu dengan daratan Asia Tenggara, sehingga merupakan wilayah yang luas.
Wilayah timur yang disebut Paparan Sahul menjadi satu dengan Benua
Australia. Wilayah yang terletak di antara Paparan Sunda dan Sahul itu meliputi
Kepulauan Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku. Kawasan ini kelak, oleh Wallacea
disebut penyaring bagi fauna (bahkan manusia) di kedua daratan. Karenanya, tipe
fauna di kedua daratan cenderung berbeda satu dengan yang lainnya. Dengan
dukungan iklim serta suhu yang baik, evolusi tumbuhan dan hewan (termasuk
Primates) bisa berlangsung.
Pada masa itu, manusia hidup dalam kelompok-kelompok kecil di berbagai
daerah dengan mobilitas yang cukup tinggi. Jalur Indonesia-kontinen Asia bisa
mereka tempuh melalui rute darat, begitu pula dengan Indonesia-Australia.
Peralatan batu yang ditemukan di Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara serta di
Filipina, mungkin bisa digunakan untuk merunut kehidupan Pithecanthropus
yang tinggal di kawasan ini. Kemudahan komunikasi itu memungkinkan mereka untuk
mengadakan migrasi ke dalam dua arah yang berlawanan.
Perubahan mulai terjadi pada daratan dan
kehidupan manusia, saat es mulai mencair. Karena air laut menjadi lebih tinggi
dan menutupi bagian-bagian rendah dari kedua paparan, maka membentuk
pulau-pulau baru yang saling terpisah. Dampaknya adalah kelompok-kelompok
manusia itu menjadi tercerai-berai dan hidup di dalam pulau-pulau yang saling
berlainan.
Fenomena alam itu tidak hanya sekali terjadi, sehingga memungkinkan
faktor-faktor evolusi seperti seleksi alam, arus gen, dan efek perintis untuk
bekerja. Hasilnya adalah populasi baru yang mungkin sekali berbeda dengan
induknya. Mungkin karena faktor hibridisasi yaitu pembauran gen atau perjodohan
antara dua golongan makhluk hidup. Mungkin pula karena pigminasi
yaitu proses pengerdilan individu sebagai akibat adanya seleksi alam dan
terbatasnya bahan makanan untuk populasi yang semakin bertambah. Proses inilah
yang antara lain mengakibatkan mengapa manusia purba yang ditmukan di kawasan
Sangiran berbeda dengan yang ditemukan di Flores pada tahun 2004.
Nah, dengan latar belakang sejarah seperti itulah muncul kehidupan manusia
di bumi Indonesia. Lalu, seperti apa jenis manusia purba yang ada di Indonesia
dan sampai pada tahap apakah kebudayaan mereka? Pembelajaran berikut ini akan
memandumu dalam mengidentifikasi dan mendeskripsikan perkembangan manusia purba
di Indonesia.
2. Jenis Manusia Purba di Indonesia
Seperti telah kamu ketahui,
bahwa manusia purba itu mempunyai bentuk dan sifat yang berbeda bila
di-bandingkan dengan manusia zaman sekarang. Tengkorak manusia purba cenderung
lebih kecil namun memanjang, rahangnya tebal namun tidak berdagu serta tidak
mempunyai dahi. Perbandingan semacam ini bisa kita peroleh setelah kita
menganalisis serangkaian penemuan fosil, baik yang berupa tengkorak maupun
tulang-tulang anggota badan lainnya.
Begitu pula saat kita nanti mendeskripsikan hasil-hasil budayanya.
Data-data tentang hasil budayanya itu bisa kita peroleh setelah kita
menganalisis fosil yang berwujud beragam bentuk peralatan yang diduga pernah
mereka gunakan. Lalu, untuk menentukan usia fosil itu kita harus menganalisis
lapisan bumi di ' mana fosil itu ditemukan, tentu dengan bantuan ilmu Geologi.
Dengan cara inilah, kita sekarang bisa mengklasifikasi jenis dan budaya manusia
purba di Indonesia.
Penemuan manusia purba di Indonesia terjadi pada akhir abad XIX. Bermula
dari dugaan Eugene Dubois bahwa manusia purba, monyet, dan kera itu biasanya
hidup di daerah tropis, karena iklimnya tidak banyak mengalami perubahan. Ada
tiga dasar teori yang digunakan Dubois sebagai acuan. Teori pertama, bahwa
pencarian missink link dalam evolusi manusia berasal dari daerah tropik.
Alasannya, berkurangnya rambut pada tubuh manusia purba hanya bisa terjadi pada
daerah tropika yang hangat. Teori kedua, Dubois mencatat bahwa dalam dunia
binatang, umumnya mereka tinggal di daerah geografis yang sama dengan asal nenek
moyangnya. Dari segi biologi, hewan yang paling mirip dengan manusia adalah
kera besar. Oleh karena itu, Dubois menduga bahwa nenek moyang kera besar
mempunyai hubungan kekerabatan (kinship) dengan manusia. Teori ketiga, Dubois percaya bahwa Asia Tenggara merupakan asal usul
manusia. Alasannya, di sana ada orang utan
dan siamang.
Penelitian pun dilakukan oleh
sejumlah peneliti luar negeri di berbagai tempat. Secara umum penelitian itu
terbagi menjadi tiga tahap yaitu periode 1889-1909, periode 1931-1941, serta
periode 1952 sampai sekarang. Dunia ilmu pengetahuan (terutama Palaeoantropologi
dan ilmu Hayat) menjadi gempar saat tahun 1889 Dubois berhasil menemukan
sejumlah fosil atap tengkorak di Wajak, Tulungagung, Kediri, yang kemudian
diikuti dengan penemuan-penemuan lain di Kedungbrubus dan Trinil. Fosil itu
disebut dengan Pithecanthropus erectus.
Namun sayangnya, sebagian besar
fosil tersebut kini tersimpan di Leiden, Belanda. Fosil lain berhasil ditemukan
oleh ter Haar, Oppenoorth, dan von Koenigswald di Ngandong, Blora, antara tahun
1931-1933, berupa tengkorak dan tulang kering yang disebut Pithecanthropus
soloensis. Pada tahun 1936-1941, von Koenigswald kembali berhasil menemukan
fosil rahang dan gigi yang bemkuran besar serta tengkorak manusia purba di
Sangiran, yang kemudian disebut Meganthropuspalaeojavanicus.
Selanjutnya, penelitian pascakemerdeka-an banyak melibatkan ahli-ahli
Indonesia, terutama di kawasan Sangiran. Berikut ini adalah jenis manusia purba di Indonesia.
a. Meganthropus atau Manusia Raksasa
Meganthropus berasal dari kata mega yang berarti besar dan anthropus yang
berarti manusia. Memang, apabila fosil makhluk itu kamu amati, pasti kamu akan
terperangah: besar rahang bawahnya melebihi rahang gorila laki-laki. Fosilnya
yang terdiri atas rahang bawah, rahang atas,''serta gigi-gigi lepas ditemukan
oleh von Koenigswald di Pucangan tahun 1936-1941, dalam lapisan bumi pleistosen
tua. Fosil ini kemudian disebut Meganthropus Paleojavanicus atau
manusia besar dari Jawa zaman kuno.
Selanjutnya, rahang bawah yang lain ditemukan oleh Marks di Kabuh tahun
1952. Namun, sejauh ini di kalangan ilmuwan nasih merasa kesulitan untuk
menempatkan Meganthropus di dalam evolusi manusia..
b. Pithecanthropus atau Manusia Kera
Pithecanthropus berasal dari kata pithekos yang berarti kera dan anthropus
yang berarti manusia. Kebanyakan fosil jenis inilah yang berhasil ditemukan di
Indonesia. Mereka hidup pada zaman pleistosen awal, tengah, dan akhir. Makhluk
ini mempunyai ciri-ciri tinggi badannya 165-180 cm, tubuh dan badannya tegap,
gerahamnya masih besar, rahangnya kuat, tonjolan kening tebal (melintang pada
dahi dari pelipis ke pelipis), tonjolan - belakang kepalanya nyata, belum
berdagu, serta berhidung lebar. Volume
otaknya berkisar antara 750 sampai 1.300 cc.
Makhluk jenis Pithecanthropus juga
ditemukan di kawasan yang lain. Di Cina Selatan ditemukan Pithecanthropus lautianensis
dan di Cina Utara disebut Pithecanthropus Pekinensis. Mereka hidup
800.000 hingga 500.000 tahun yang lampau. Makhluk sejenis juga ditemukan di
Tanzania, Kenya, dan Aljazair di Afrika, serta di Eropa seperti di Jerman
Barat, Jerman Timur, Prancis, Yunani, dan Hongaria. Namun, kebanyakan ditemukan
di Indonesia. Ada beberapa jenis manusia purba yang tergolong ke dalam Pithecanthropus,
antara lain sebagai berikut.
1)
Pithecanthropus Mojokertensis ( Manusia Kera dari Mojokerto)
Jenis ini diduga merupakan manusia purba tertua
yang ada di Indonesia dan ditemukan tahun 1936 di Pucangan serta Mojokerto,
berupa tengkorak anak-anak berusia 6 tahun. Isi otaknya berkisar 650 cc. Fosil
ini ke-mudian disebut Pithecanthropus mojokertensis atau Pithecanthropus
robustus (robustus artinya besar). Dari hasil penelitian, bisa
di-simpulkan bahwa makhluk ini hidup pada 2,5 sampai 1,25 juta tahun yang
lampau. Makhluk ini mempunyai spesifikasi: berbadan tegap, tonjolan keningnya
tebal, tulang pipinya kuat, dan mu-kanya menonjol ke depan. Makhluk ini hidup bersama-an dengan Meganthropus, namun sulit
menghubung-kan evolusi keduanya.
2) Pithecanthropus Erectus (Manusia Kera yang Berjalan Tegak)
Jenis ini merupakan generasi kedua manusia purba di Indonesia. Yang fenomenal
dari jenis ini adalah selain fosilnya ditemukan paling awal, juga memiliki
wilayah penyebaran yang cukup luas. Fosil jenis ini terdiri atas atap
tengkorak, tulang paha, serta beberapa fragmen tulang paha yang ditemukan di
Trinil tahun 1891. Fosil ini merupakan kepunyaan laki-laki dengan isi otak
kira-kira 900 cc. Dari penelitian terhadap tengkoraknya, Dubois member! nama Pithecanthropus
atau manusia kera dan dari tulang pahanya ia member! nama erectus atau
berjalan tegak. Tidak kurang dari 23 jenis fosil berhasil ditemukan di berbagai
daerah di kawasan Sangiran. Maka, tidak aneh bila fakta dan cerita tentang
kehidupan Pithecanthropus lebih banyak kita peroleh dibandingkan dengan
manusia purba dari jenis yang lain. Misalnya, makhluk ini hidup sekitar sejuta
hingga setengah juta tahun yang lalu, mempunyai tinggi badan 160-180 cm dengan
berat badan 80 sampai
100kg.
Yang membedakan Pithecanthropus erectus dengan Pithecanthropus
Mojokertensis adalah besar isi tengkorak, tebal atap tengkorak, bentuk
tonjolan belakang kepala dan tonjolan kening, serta daerah telinga. Dari fosi1 Pithecanthropus
orectus yang berhasil ditemukan, kebanyakan berjenis kelamin laki-laki.
Diduga jenis perempuannya banyak yang meninggal saat kehamilan dan persalinan.
3).
Pithecanthropus Soloensis (Manusia Kera dari Solo)
Nama Pithecanthropus soloensis diberikan
oleh ilmuwan kita Prof. Dr. Teuku Jacob setelah meneliti 14 jenis fosi1 dari
Desa Ngandong di Lembah Bengawan Solo sebelah utara Trinil. Jenis ini merupakan
generasi ketiga manusia purba di Indonesia. Dari penemuan fosil yang ada di
Sangiran dan Sambungmacan, makhluk ini mempnnyai ciri khas: volume otak 1.000
sampai 1.300 cc, tengkoraknya lonjong, tebal dan masif, tonjolan keningnya
cukup nyata, dahinya lebih terisi, serta tengkoraknya lebih tinggi dibanding
kedua manusia terdahulu. Tanda-tanda yang
lain adalah akar hidungnya lebar dan rongga matanya sangat panjang, tinggi
badannya 165 sampai 180 cm, serta tulang keringnya tegap.
Dari identifikasi ini
bisa disimpulkan bahwa meskipun letak kepalanya di atas tulang belakang, namun
belum seperti letak kepala manusia saat ini.
Pithecanthropus soloensis yang hidup kira-kira 900.000 hingga 300.000 tahun yang lalu itu, secara evolutif
lebih dekat dengan Pithecanthropus Mojokertensis dibandingkan dengan Pithecanthropus
Erectus.
Para ilmuwan menduga bahwa kedua makhluk itu memang mem-punyai kaitan dalam
hal evolusi. Yang membedakannya dengan kedua manusia purba terdahulu adalah
besarnya tengkorak, tonjolan kening, dan tonjolan belakang kepala, daerah
telinga dan daerah hidung. Hanya saja, volume otaknya semakin bertambah,
demikian pula otak kecilnya. Kamu tentu mengetahui apa dampak yang muncul di
balik berkembangnya volume otak ini. Dengan otak yang semakin berkembang itu, Pithecanthropus
Soloensis mulai menemukan dan mempunyai cara hidup yang baru. Perubahan
inilah yang menyebabkan berkembangnya kebudayaan manusia-manusia purba di
Indonesia. Oleh karena itu, ada beberapa ahli yang mengelompokkan Pithecanthropus
Soloensis ini ke dalam kelompok Homo Neandertalensis. Bahkan, ada
pula yang memasukkan-nya ke dalam kelompok Homo Sapiens. Namun, sejauh ini para ilmuwan belum mencapai kesepakatan.
4) Homo ( Manusia)
Jenis Homo ini mulai mendekati dengan
bentuk manusia. Hidup pada zaman pleistosen muda. Sementara itu, dari serangkaian fosi1 yang ditemukan diduga mereka hidup
200.000 tahun yang lalu. Selain banyak jumlahnya dan ditemukan di berbagai
tempat, fosilnya tidak hanya berupa tengkorak melainkan juga berupa kerangka
yang lengkap. Ada beberapa jenis manusia
purba dari kelompok Homo ini, antara lain sebagai berikut.
a). Homo Neandertalensis (Manusia dan
Lembah Neander)
Fosil makhluk ini ditemukan tahun 1856 di Lembah
Sungai Neander dekat Kota Dusseldorf, Jerman. Fosil sejenis juga ditemukan di
Francis, Belgia, Jerman, Italia, Yugoslavia, serta berbagai negara di Eropa. Di
Palestina, fosil itu ditemukan di Gua Tabun dekat Mount Carmel, sehingga
disebut HomoPalestinensis. Semula, makhluk
ini hanya dianggap sebagai evolusi manusia yang kandas. Namun, setelah penemuan
Homo neandertalensis, para ilmuwan sepakat bahwa makhluk ini merupakan
nenek moyang salah satu ras manusia.
Yang cukup mengagumkan dari penemuan fosil-fosil ini adalah ditemukan-nya
beragam peralatan batu dan sisa-sisa kebudayaan lama di dekat lokasi fosil. Hal
itu menunjukkan, bahwa tingkat kehidupan mereka sudah akrab dengan kebudayaan.
Bahkan, di Eropa sering ditemukan bekas-bekas api di sekitar penemuan fosil,
yang diduga sebagai solusi atas dinginnya iklim di daerah Glasial. Dari
penelitian terhadap peralatan yang berhasil ditemukan menunjukkan bahwa mereka
sudah berburu. Peralatan batu selain digunakan untuk senjata juga digunakan
untuk memotong.
b). Homo Sapiens
(Manusia Sekarang)
Generasi pertama dari manusia sekarang mula-mula
hidup pada lapisan pleistosen muda atau zaman glasial terakhir (sekitar 80.000
tahun yang lampau). Mulai saat itu, tidak ditemukan lagi makhluk-makhluk dari
dua jenis terdahulu. Karena sejak zaman holosen, fosil manusia yang berhasil
ditemukan menunjukkan perbedaan empat ras pokok yang saat itu ada di muka bumi.
Keempatnya sebagai berikut.
(1) Ras Australoid yang
kini sisa-sisanya bisa kamu temukan di pedalaman Benua Australia. Fosil manusia
dari jenis ini ditemukan oleh Rietschoten tahun 1889 di Desa Wajak Kab. Tulungagung Jawa Timur, di Lembah Sungai Brantas dalam lapisan pleistosen
muda. Fosil ini berupa tengkorak, fragmen rahang bawah, dan beberapa buah ruas
leher. Pada tahun berikutnya ditemukan pula fragmen tulang tengkorak, rahang
atas dan bawah serta tulang paha dan tulang kering. Dari hasil penelitian
terhadap fosil itu diperoleh beberapa kesimpulan. Tengkorak manusia ini
tergolong besar dengan volume otak 1.630 cc, mukanya datar dan lebar. Akar
hidungnya lebar, dahinya agak miring, di atas rongga mata ada busur kening yang
nyata. Tinggi manusia itu kira-kira 173 cm diteliti dari tulang pahanya.
Manusia yang kerrtudian disebut Homo Wajakensis itu diperkirakan hidup
40.000 tahun yang lampau, tersebar di Paparan Sunda dan sebagian Indonesia
Timur.
Prof. Dr. Teuku Jacob mengajukan sebuah teori, bahwa di daerah Papua (Irian
Jaya), telah berkembang suatu ras khusus dari ras Wajak dan menjadi nenek
moyang penduduk asli Australia sekarang. Salah satu kemungkinan mengapa terjadi
arus migrasi dari Irian ke Australia adalah, masih utuhnya daratan di kedua
bagian bumi itu. Laut saat itu belum terbentuk, sehingga mobilitas manusia bisa
merambah ke wilayah yang luas. Nah, dari sinilah kita bisa merunut mengapa ras
Wajak mampu menyebar hirigga ke Irian. Bahkan, menurut Teuku Jacob, dari ras
Wajak ini pulalah berkembang menjadi penduduk Irian dan Melanesia.
( 2) Ras Mongoloid adalah
ras yang paling besar jumlahnya dan luas wilayah penyebarannya, bahkan hingga
saat ini. Fosil manusia dari jenis ini ditemukan di Gua Chou-Kou-Tien (sebelah
barat Beijing) Tiongkok antara tahun 1927 dan 1937. Fosil yang berhasil
ditemukan itu membuktikan bahwa manusia ini memiliki kemiripan dengan Pithecanthropus
yang ada di Indonesia. Fosil ini kemudian diberi nama Pithecanthropus
pekinensis. Dari hasil penelitian terhadap fosilnya, diperoleh data bahwa
ternyata tengkoraknya lebih besar bila dibandingkan dengan Pithecanthropus
Erectus, dengan volume otak kira-kira 900 hingga 1.000 cc. Berarti volume
otaknya telah mendekati volume otak manusia sekarang. Apalagi di sekitar
penemuan fosilnya ditemukan serangkaian peralatan yang menunjukkannya telah
memiliki kebudayaan. Bermula dari manusia inilah, kemudian berkembang menjadi
beragam ras Mongoloid di Asia Timur, Asia Tenggara, Asia Tengah, Asia Utara,
Asia Timur Laut, bahkan hingga Benua Amerika Utara dan Selatan. Mereka
diperkirakan hidup antara 40.000 hingga 30.000 tahun yang lampau. Kamu kini
tentu bisa merunut, bangsa-bangsa mana sajakah yang nenek moyangnya berasal
dari Pithecanthropus Pekinensis ini.
(3) Ras Kaukasoid yang
menjadi cikal bakal bangsa-bangsa di Eropa, Afrika bagian utara Gurun Sahara,
Asia Barat Daya, Australia serta Benua Amerika Utara dan Selatan. Fosil manusia
yang berhasil ditemukan di Desa Les Eyzies, Dordogne di Prancis, diperkirakan
berasal dari 60.000 tahun yang lampau. Fosil manusia yang menjadi nenek moyang
penduduk Eropa sekarang itu kemudian disebut Homo Sapiens Cromagnonensis.
Fosil yang ditemukan itu mempunyai bentuk yang indah, tinggi, dan besar,
mukanya selaras dengan bentuk dahinya. Sisa-sisa manusia ini bisa dijumpai pada
bangsa Kabyl di Afrika Utara.
(4) Homo Sapiens yang
mula-mula menunjukkan ciri-ciri ras Negroid, ditemukan di Asselar
sebelah timur laut Timbuktu (di tengah-tengah Gurun Sahara). Fosil manusia ini
oleh para ahli palaeoantropologi diberi nama Homo Sapiens Asselar,
diperkirakan hidup 14.000 tahun yang lampau. Ras Negroid ini dianggap oleh para peneliti manusia purba sebagai
ras manusia yang paling muda
Dari
keempat jenis nenek moyang ras itulah, manusia berevolusi dan berkembang biak
menjadi besar serta beragam sifatnya. Masing-masing ras mempunyai spesifikasi
dan membentuk satuan sosial sendiri-sendiri.
sumber referensi:
http://suwandi-sejarah.blogspot.com/2013/01/terbentuknya-peradaban-awal-masyarakat.html?showComment=1432041328653#c5447473662317099221
http://www.eyuana.com/2014/10/penemuan-manusia-purba-di-indonesia_4.html
http://suwandi-sejarah.blogspot.com/2013/01/terbentuknya-peradaban-awal-masyarakat.html?showComment=1432041328653#c5447473662317099221
http://www.eyuana.com/2014/10/penemuan-manusia-purba-di-indonesia_4.html





No comments:
Post a Comment